Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Medan (Unimed) melaksanakan program bertajuk “Pendampingan dan Penerapan Media Cerita Bergambar Dwibahasa Indonesia–Jerman untuk Pencegahan Perundungan Anak di TK Islam Al Ikhlas Taqwa Medan Area.” Kegiatan ini dimulai pada 29 April 2026 dan melibatkan guru serta peserta didik di lingkungan sekolah tersebut.

Program ini diketuai oleh Dr. Rina Evianty, S.Pd., M.Hum, dengan anggota tim Dr. Risnovita Sari, S.Pd., M.Hum, Srinahyanti, S.Pd., M.Pd, Nurhanifah Lubis, S.Pd., M.Si, dan Salmah Naelofaria, S.Pd., M.Pd. Kegiatan ini juga didampingi oleh perwakilan LPPM Unimed, Savitri Rahmadany, S.Pd., M.Li.

Ketua tim, Dr. Rina Evianty, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari hasil observasi awal yang menunjukkan masih ditemukannya perilaku perundungan sederhana pada anak usia dini, seperti mengejek, mengucilkan teman, serta rendahnya kemampuan dalam mengekspresikan empati dan komunikasi santun.

“Kami melihat bahwa anak-anak belum terbiasa mengungkapkan perasaan dengan baik, meminta maaf, ataupun berinteraksi secara positif dengan teman sebaya. Oleh karena itu, diperlukan media pembelajaran yang tepat untuk menanamkan nilai karakter sejak dini,” ujarnya.

Sebagai solusi, tim PKM mengembangkan dan menerapkan media cerita bergambar dwibahasa Indonesia–Jerman. Media ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini yang menyukai visual dan cerita. Selain itu, penggunaan bahasa Jerman sederhana juga menjadi nilai tambah dalam memperkenalkan literasi bahasa asing sekaligus membiasakan penggunaan ungkapan sopan dan empatik.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi program kepada guru dan pihak sekolah, dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan media cerita bergambar dwibahasa. Para guru diberikan pemahaman tentang cara menyampaikan nilai-nilai anti perundungan melalui cerita, serta strategi membangun interaksi positif antar anak.

Selanjutnya, tim melakukan pendampingan langsung dalam penerapan media tersebut di kelas. Anak-anak diajak mendengarkan cerita, berdiskusi sederhana, serta mempraktikkan ungkapan empati, seperti meminta maaf, mengucapkan terima kasih, dan berbagi dengan teman.

“Melalui cerita, anak-anak lebih mudah memahami mana perilaku yang baik dan tidak baik. Mereka juga mulai terbiasa menggunakan ungkapan sopan, bahkan dalam dua bahasa,” tambah Dr. Rina.

Program ini juga mencakup tahap evaluasi untuk melihat perubahan perilaku anak serta keberlanjutan penggunaan media oleh guru. Hasil awal menunjukkan adanya peningkatan sikap prososial anak, seperti lebih mau berbagi, membantu teman, dan berkomunikasi dengan lebih santun. WhatsApp Image 2026-05-01 at 09.31.23.jpeg Adapun luaran dari kegiatan ini meliputi buku cerita bergambar dwibahasa Indonesia–Jerman, modul panduan bagi guru, laporan akhir kegiatan, artikel ilmiah untuk publikasi di jurnal atau seminar, publikasi media massa, video kegiatan pada kanal YouTube LPPM Unimed, serta pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Pihak sekolah menyambut positif kegiatan ini dan berharap program serupa dapat terus dikembangkan. Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan tercipta lingkungan TK yang lebih inklusif, ramah anak, serta mampu menanamkan nilai karakter dan literasi bahasa sejak usia dini.

Program ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi Unimed dalam mendukung pendidikan karakter dan penguatan literasi di tingkat pendidikan dasar, khususnya dalam pencegahan perundungan sejak usia dini.